Selamat datang di budaya Alor. Disini saya akan
menjelaskan bagaimana budaya alor yang sebenarnya. Yuk kita telusuri bersama.
Berkunjung ke Pulau Alor, berarti kita akan menemukan keunikan-keunikan yang
sangat manakjubkan. Salah satu Budaya moko yang dipegang teguh masyarakat Alor
sejak ratusan tahun lalu ini menghantarkan semua saksi bisu sejarah ke dalam
museum 1.000 moko yang terkenal ini.
Museum yang berada di Kota Kalabahi, Kabupaten
Alor, Provinsi NTT ini menyimpan beragam benda peninggalan pra-sejarah dan
benda sejarah kebudayaan moko. Lokasinya tak jauh dari pusat kota yaitu di
Jalan Dipenogoro.
Masuk ke dalam museum ini kita dapat menyaksikan
betapa budaya di pulau ini begitu sangat beragam dan unik. Kalian tahu gak
kenapa Dinamai Museum 1.000 Moko? karena moko mewakili kebudayaan orang Alor
dan dianggap sebagai benda adat yang bernilai sangat tinggi. Sementara angka
1.000 menunjukkan keanekaragaman suku sekaligus bentuk harapan masyarakat Pulau
Alor.
Tentu saja, di dalam museum ini koleksinya pun
beragam, ada alat tenun, kain tenun, gerabah, alat nelayan tradisional, alat
pertanian, meriam Portugis, senjata peninggalan Jepang, baju adat, alat berburu
tradisional, dan tentunya koleksi unggulan yaitu moko. Museum ini pun terus
mengoleksi benda-benda sejarah tersebut hingga berjumlah 1.000 lebih.
Masyarakat Alor sangat percaya bahwa moko berasal
dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya yang sangat
tinggi. Oleh karena itu hampir bisa dipastikan tidak ada masyarakat adat di
Nusantara yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Alor.
Hingga sekarang pun moko masih digunakan oleh
masyarakat Alor sebagai belis atau mas kawin pihak laki-laki kepada pihak
perempuan. Karena itu moko pun dipercaya dapat mengikat pernikahan. Selain itu,
nilai moko yang sangat tinggi membuat kepemilikan terhadap jumlah dan jenis
moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang.
Beberapa suku yang masih menjadikan moko sebagai
mahar yaitu suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali.
Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat
membayar mas kawin. Selain sebagai belis atau mas kawin, moko juga digunakan
sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Dahulunya pun. Moko sempat
berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor.
Diantara koleksi yang ada, Museum 1.000 Moko juga
memajang beragam benda budaya dan barang bersejarah yang ada di daerah
ini.Uniknya, hampir 80 persen benda koleksi museum tersebut merupakan warisan
dari koleksi seorang warga keturunan China di Kalabahi, bernama Toby Retika. Ia
memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi pada September 2003 dan menyerahkan
seluruh hasil koleksinya itu kepada Pemerintah Kabupaten Alor.
Selamat datang di budaya Alor. Disini saya akan
menjelaskan bagaimana budaya alor yang sebenarnya. Yuk kita telusuri bersama.
Berkunjung ke Pulau Alor, berarti kita akan menemukan keunikan-keunikan yang
sangat manakjubkan. Salah satu Budaya moko yang dipegang teguh masyarakat Alor
sejak ratusan tahun lalu ini menghantarkan semua saksi bisu sejarah ke dalam
museum 1.000 moko yang terkenal ini.
Museum yang berada di Kota Kalabahi, Kabupaten
Alor, Provinsi NTT ini menyimpan beragam benda peninggalan pra-sejarah dan
benda sejarah kebudayaan moko. Lokasinya tak jauh dari pusat kota yaitu di
Jalan Dipenogoro.
Masuk ke dalam museum ini kita dapat menyaksikan
betapa budaya di pulau ini begitu sangat beragam dan unik. Kalian tahu gak
kenapa Dinamai Museum 1.000 Moko? karena moko mewakili kebudayaan orang Alor
dan dianggap sebagai benda adat yang bernilai sangat tinggi. Sementara angka
1.000 menunjukkan keanekaragaman suku sekaligus bentuk harapan masyarakat Pulau
Alor.
Tentu saja, di dalam museum ini koleksinya pun
beragam, ada alat tenun, kain tenun, gerabah, alat nelayan tradisional, alat
pertanian, meriam Portugis, senjata peninggalan Jepang, baju adat, alat berburu
tradisional, dan tentunya koleksi unggulan yaitu moko. Museum ini pun terus
mengoleksi benda-benda sejarah tersebut hingga berjumlah 1.000 lebih.
Masyarakat Alor sangat percaya bahwa moko berasal
dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya yang sangat
tinggi. Oleh karena itu hampir bisa dipastikan tidak ada masyarakat adat di
Nusantara yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Alor.
Hingga sekarang pun moko masih digunakan oleh
masyarakat Alor sebagai belis atau mas kawin pihak laki-laki kepada pihak
perempuan. Karena itu moko pun dipercaya dapat mengikat pernikahan. Selain itu,
nilai moko yang sangat tinggi membuat kepemilikan terhadap jumlah dan jenis
moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang.
Beberapa suku yang masih menjadikan moko sebagai
mahar yaitu suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali.
Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat
membayar mas kawin. Selain sebagai belis atau mas kawin, moko juga digunakan
sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Dahulunya pun. Moko sempat
berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor.
Diantara koleksi yang ada, Museum 1.000 Moko juga
memajang beragam benda budaya dan barang bersejarah yang ada di daerah
ini.Uniknya, hampir 80 persen benda koleksi museum tersebut merupakan warisan
dari koleksi seorang warga keturunan China di Kalabahi, bernama Toby Retika. Ia
memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi pada September 2003 dan menyerahkan
seluruh hasil koleksinya itu kepada Pemerintah Kabupaten Alor.

0 Comments for "Budaya Alor Nusa Kanari"